RSS

Ashhabul Ukhdud

Kisah Seorang Anak Raja dengan Penyihir dan Rahib

 

حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْبٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

 

كَانَ مَلِكٌ فِيْمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ وَكَانَ لَهُ سَاحِرٌ فَلَمَّا كَبِرَ قَالَ لِلْمَلِكِ إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ فَابْعَثْ إِلَيَّ غُلاَمًا أُعَلِّمْهُ السِّحْرَ فَبَعَثَ إِلَيْهِ غُلاَمًا يُعَلِّمُهُ فَكَانَ فِي طَرِيْقِهِ إِذَا سَلَكَ رَاهِبٌ فَقَعَدَ إِلَيْهِ وَسَمِعَ كَلاَمَهُ فَأَعْجَبَهُ فَكَانَ إِذَا أَتَى السَّاحِرَ مَرَّ بِالرَّاهِبِ وَقَعَدَ إِلَيْهِ فَإِذَا أَتَى السَّاحِرَ ضَرَبَهُ فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى الرَّاهِبِ فَقَالَ إِذَا خَشِيْتَ السَّاحِرَ فَقُلْ حَبَسَنِي أَهْلِي وَإِذَا خَشِيْتَ أَهْلَكَ فَقُلْ حَبَسَنِي السَّاحِرُ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ أَتَى عَلَى دَابَّةٍ عَظِيْمَةٍ قَدْ حَبَسَتِ النَّاسَ فَقَالَ الْيَوْمَ أَعْلَمُ آلسَّاحِرُ أَفْضَلُ أَمْ اَلرَّاهِبُ أَفْضَلُ فَأَخَذَ حَجَرًا فَقَالَ اَللّهُمَّ إِنْ كَانَ أَمْرُ الرَّاهِبِ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ أَمْرِ السَّاحِرِ فَاقْتُلْ هَذِهِ الدَّابَّةَ حَتَّى يَمْضِيَ النَّاسُ فَرَمَاهَا فَقَتَلَهَا وَمَضَى النَّاسُ فَأَتَى الرَّاهِبَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ لَهُ الرَّاهِبُ أَيْ بُنَيَّ أَنْتَ الْيَوْمَ أَفْضَلُ مِنِّي قَدْ بَلَغَ مِنْ أَمْرِكَ مَا أَرَى وَإِنَّكَ سَتُبْتَلَى فَإِنْ اُبْتُلِيْتَ فَلاَ تَدُلَّ عَلَيَّ وَكَانَ الْغُلاَمُ يُبْرِئُ اْلأَكْمَهَ وَاْلأَبْرَصَ وَيُدَاوِي النَّاسَ مِنْ سَائِرِ اْلأَدْوَاءِ فَسَمِعَ جَلِيْسٌ لِلْمَلِكِ كَانَ قَدْ عَمِيَ فَأَتَاهُ بِهَدَايَا كَثِيْرَةٍ فَقَالَ مَا هَاهُنَا لَكَ أَجْمَعُ إِنْ أَنْتَ شَفَيْتَنِي فَقَالَ إِنِّي لاَ أَشْفِي أَحَدًا إِنَّمَا يَشْفِي اللهُ فَإِنْ أَنْتَ آمَنْتَ بِاللهِ دَعَوْتُ اللهَ فَشَفَاكَ فَآمَنَ بِاللهِ فَشَفَاهُ اللهُ فَأَتَى الْمَلِكَ فَجَلَسَ إِلَيْهِ كَمَا كَانَ يَجْلِسُ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَنْ رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ قَالَ رَبِّي قَالَ وَلَكَ رَبٌّ غَيْرِي قَالَ رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ فَأَخَذَهُ فَلَمْ يَزَلْ يُعَذِّبُهُ حَتَّى دَلَّ عَلَى الْغُلاَمِ فَجِيءَ بِالْغُلاَمِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ أَيْ بُنَيَّ قَدْ بَلَغَ مِنْ سِحْرِكَ مَا تُبْرِئُ اْلأَكْمَهَ وَاْلأَبْرَصَ وَتَفْعَلُ وَتَفْعَلُ فَقَالَ إِنِّي لاَ أَشْفِي أَحَدًا إِنَّمَا يَشْفِي اللهُ فَأَخَذَهُ فَلَمْ يَزَلْ يُعَذِّبُهُ حَتَّى دَلَّ عَلَى الرَّاهِبِ فَجِيءَ بِالرَّاهِبِ فَقِيْلَ لَهُ اِرْجِعْ عَنْ دِيْنِكَ فَأَبَى فَدَعَا بِالْمِئْشَارِ فَوَضَعَ الْمِئْشَارَ فِي مَفْرِقِ رَأْسِهِ فَشَقَّهُ حَتَّى وَقَعَ شِقَّاهُ ثُمَّ جِيءَ بِجَلِيْسِ الْمَلِكِ فَقِيْلَ لَهُ اِرْجِعْ عَنْ دِيْنِكَ فَأَبَى فَوَضَعَ الْمِئْشَارَ فِي مَفْرِقِ رَأْسِهِ فَشَقَّهُ بِهِ حَتَّى وَقَعَ شِقَّاهُ ثُمَّ جِيءَ بِالْغُلاَمِ فَقِيْلَ لَهُ اِرْجِعْ عَنْ دِيْنِكَ فَأَبَى فَدَفَعَهُ إِلَى نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ اِذْهَبُوْا بِهِ إِلَى جَبَلِ كَذَا وَكَذَا فَاصْعَدُوْا بِهِ الْجَبَلَ فَإِذَا بَلَغْتُمْ ذُرْوَتَهُ فَإِنْ رَجَعَ عَنْ دِيْنِهِ وَإِلاَّ فَاطْرَحُوْهُ فَذَهَبُوْا بِهِ فَصَعِدُوْا بِهِ الْجَبَلَ فَقَالَ اَللّهُمَّ اكْفِنِيْهِمْ بِمَا شِئْتَ فَرَجَفَ بِهِمُ الْجَبَلُ فَسَقَطُوْا وَجَاءَ يَمْشِي إِلَى الْمَلِكِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَا فَعَلَ أَصْحَابُكَ قَالَ كَفَانِيْهِمُ اللهُ فَدَفَعَهُ إِلَى نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ اذْهَبُوْا بِهِ فَاحْمِلُوْهُ فِي قُرْقُوْرٍ فَتَوَسَّطُوْا بِهِ الْبَحْرَ فَإِنْ رَجَعَ عَنْ دِيْنِهِ وَإِلاَّ فَاقْذِفُوْهُ فَذَهَبُوْا بِهِ فَقَالَ اَللّهُمَّ اكْفِنِيْهِمْ بِمَا شِئْتَ فَانْكَفَأَتْ بِهِمُ السَّفِيْنَةُ فَغَرِقُوْا وَجَاءَ يَمْشِي إِلَى الْمَلِكِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَا فَعَلَ أَصْحَابُكَ قَالَ كَفَانِيْهِمُ اللهُ فَقَالَ لِلْمَلِكِ إِنَّكَ لَسْتَ بِقَاتِلِي حَتَّى تَفْعَلَ مَا آمُرُكَ بِهِ قَالَ وَمَا هُوَ قَالَ تَجْمَعُ النَّاسَ فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ وَتَصْلُبُنِي عَلَى جِذْعٍ ثُمَّ خُذْ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِي ثُمَّ ضَعِ السَّهْمَ فِي كَبِدِ الْقَوْسِ ثُمَّ قُلْ بِاسْمِ اللهِ رَبِّ الْغُلاَمِ ثُمَّ ارْمِنِي فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ قَتَلْتَنِي فَجَمَعَ النَّاسَ فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ وَصَلَبَهُ عَلَى جِذْعٍ ثُمَّ أَخَذَ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِهِ ثُمَّ وَضَعَ السَّهْمَ فِي كَبْدِ الْقَوْسِ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللهِ رَبِّ الْغُلاَمِ ثُمَّ رَمَاهُ فَوَقَعَ السَّهْمُ فِي صُدْغِهِ فَوَضَعَ يَدَهُ فِي صُدْغِهِ فِي مَوْضِعِ السَّهْمِ فَمَاتَ فَقَالَ النَّاسُ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلاَمِ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلاَمِ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلاَمِ فَأُتِيَ الْمَلِكُ فَقِيْلَ لَهُ أَرَأَيْتَ مَا كُنْتَ تَحْذَرُ قَدْ وَاللهِ نَزَلَ بِكَ حَذَرُكَ قَدْ آمَنَ النَّاسُ فَأَمَرَ بِاْلأُخْدُوْدِ فِي أَفْوَاهِ السِّكَكِ فَخُدَّتْ وَأَضْرَمَ النِّيْرَانَ وَقَالَ مَنْ لَمْ يَرْجِعْ عَنْ دِيْنِهِ فَأَحْمُوْهُ فِيْهَا أَوْ قِيْلَ لَهُ اقْتَحِمْ فَفَعَلُوْا حَتَّى جَاءَتِ امْرَأَةٌ وَمَعَهَا صَبِيٌّ لَهَا فَتَقَاعَسَتْ أَنْ تَقَعَ فِيْهَا فَقَالَ لَهَا الْغُلاَمُ يَا أُمَّهْ اِصْبِرِي فَإِنَّكِ عَلَى الْحَقِّ

 

73 – (3005)

 

Telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Shuhaib bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

 

Dahulu sebelum kalian ada, Ada seorang raja, ia memiliki tukang sihir. Saat tukang sihir sudah tua, ia berkata kepada rajanya: Aku sudah tua, kirimkanlah seorang pemuda kepadaku untuk aku ajari sihir. Lalu ia mengirim seorang pemuda untuk belajar sihir. Di jalan diantara tukang sihir dan raja terdapat seorang rahib. Si pemuda itu mendatangi rahib dan mendengar kata-katanya, ia kagum akan kata-kata si rahib itu sehingga apabila dia mendatangi tukang sihir dia (menyempatkan diri) bertemu dengan si Rahib dan duduk (mendengarkannya) Maka ketika datang (sampai) ke si penyihir, ia pasti dipukul oleh penyihir (karena terlambat). Pemuda itu mengeluhkan hal itu kepada si rahib, ia menjawab: Bila tukang sihir hendak memukulmu, katakan: Keluargaku menahanku (sehingga terlambat),  dan bila kau takut pada keluargamu, katakan: Si tukang sihir menahanku. Demikianlah waktu terus berjalan. Sampai pada suatu hari ia mendekati seekor hewan yang besar yang menghalangi jalanan orang, ia berkata: Pada hari ini aku akan tahu, apakah tukang sihir yang lebih baik ataukah pendeta yang lebih baik. Ia mengambil batu lalu berkata: Ya Allah, bila urusan si rahib lebih Engkau sukai dari pada tukang sihir itu maka bunuhlah binatang ini hingga orang bisa lewat. Kemudian ia melempar binatang itu dengan batu itu dan matilah binatang itu, orang-orang pun bisa lewat. Ia memberitahukan hal itu kepada si rahib. Si rahib berkata: Hai Anakku, saat ini engkau lebih baik (utama) dari pada aku dan urusanmu telah sampai seperti yang aku lihat, Nanti engkau akan mendapat ujian, maka bila engkau mendapat ujian janganlah engkau menunjukkan padaku. Sekarang si pemuda bisa menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta dan bisa mengobati orang-orang dari berbagai macam penyakit. Ada sorang teman raja yang buta mendengarnya, lalu ia mendatangi pemuda itu dengan membawa hadiah yang banyak, ia berkata: Sembuhkan aku dan kau akan mendapatkan yang aku kumpulkan disini. Pemuda itu berkata: Aku tidak menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah, bila kau beriman padaNya, aku akan berdoa kepadaNya agar menyembuhkanmu. Teman si raja itu pun beriman lalu si pemuda itu berdoa kepada Allah lalu ia pun sembuh. Kemudian ia mendatangi raja lalu duduk didekatnya seperti biasanya. Kemudian Si raja bertanya: Siapa yang menyembuhkan matamu?  Ia menjawab: Rabbku (Tuhanku).  Si raja berkata: Kau punya Rabb selainku? Orang itu berkata: Rabbku dan Rabbmu adalah Allah. Si raja menangkapnya lalu menyiksanya tiada henti hingga ia menunjukkannya pada si pemuda lalu pemuda itu didatangkan, Raja berkata: Hai anakku, Ilmu sihirmu (telah sedemikian tinggi) sehingga samapai bisa menyembuhkan orang buta, kusta dan kau melakukan ini dan itu.Pemuda itu berkata: Bukan aku yang menyembuhkan, yang menyembuhkan hanya Allah. Si raja lalu menangkapnya dan terus menerus menyiksanya sehinggga ia menunjukkan kepada si rahib. Kemudian didatangkanlah si rahib. Lalu dikatakan padanya: Tinggalkan agamamu!. Si rahib menolaknya (tidak mau) lalu si raja memerintahkan untuk mengambil gergaji kemudian diletakkan tepat ditengah kepalanya kemudian dibelahlah kepalanya sehingga belahannnya jatuh di tanah. Setelah itu teman si raja didatangkan dan dikatakan padanya: Tinggalkan agamamu. Sahabat raja menolaknya lalu si raja meminta gergaji kemudian diletakkan tepat ditengah kepalanya hingga sebelahnya terkapar di tanah. Setelah itu pemuda didatangkan lalu dikatakan padanya: Tinggalkan agamamu. Pemuda itu tidak mau. Lalu si raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya, raja berkata: Bawalah dia ke gunung ini dan ini, bawalah ia naik, bila ia mau meninggalkan agamanya (biarkanlah dia) dan bila tidak mau, lemparkan dari atas gunung. Mereka membawanya ke puncak gunung lalu pemuda itu berdoa: Ya Allah, cukupilah aku dari mereka sekehendakMu. Ternyata gunung mengguncang mereka dan mereka semua jatuh. Pemuda itu kembali pulang hingga tiba dihadapan raja. Raja bertanya: Bagaimana keadaan kawan-kawanmu?  Pemuda itu menjawab: Allah mencukupiku dari mereka. Lalu si raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya, raja berkata: Bawalah dia ke sebuah perahu lalu kirim ke tengah laut, bila ia mau meninggalkan agamanya (bawalah dia pulang) dan bila ia tidak mau meninggalkannya, lemparkan dia. Mereka membawanya ke tengah laut lalu pemuda itu berdoa: Ya Allah, cukupilah aku dari mereka sekehendakMu. Ternyata perahunya terbalik dan mereka semua tenggelam. Pemuda itu pulang hingga tiba dihadapan raja, raja bertanya: Bagaimana keadaan teman-temanmu? Pemuda itu menjawab: Allah mencukupiku dari mereka. Setelah itu ia berkata kepada raja: Engkau tidak akan bisa membunuhku hingga kau mau melakukan apa yang aku perintahkan, Raja bertanya: Apa yang kau perintahkan?  Pemuda itu berkata: Kumpulkan semua orang ditanah lapang yang luas lalu saliblah aku diatas pelepah, ambillah anak panah dari sarung panahku lalu ucapkan: Dengan nama Allah, Rabb (Tuhan) pemuda ini. Bila engkau melakukannya engkau akan bisa membunuhku. Akhirnya raja itu melakukannya. Ia meletakkan anak panah ditengah-tengah panah lalu melesakkannya seraya berkata: Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini. Anak panah di lesakkan ke pelipis pemuda itu lalu pemuda meletakkan tangannya ditempat panah menancap kemudian mati. Orang-orang berkata: Kami beriman dengan Rabb pemuda itu. Kami beriman dengan Rabb pemuda itu. Kami beriman dengan Rabb pemuda itu. Kemudian didatangkan kepada raja dan dikatakan padanya: Tahukah kamu , sesuatu yang engkau khawatirkan, demi Allah kini telah menimpamu (terjadi). Orang-orang telah beriman seluruhnya. Si raja kemudian memerintahkan membuat parit di jalanan kemudian dinyalakan api. Raja berkata: Siapa pun yang tidak meninggalkan agamanya, pangganglah didalamnya. Mereka melakukannya sehingga datanglah seorang wanita bersama anaknya, sepertinya ia hendak mundur agar tidak terjatuh dalam kubangan api lalu si bayi itu berkata: Hai Ibuku, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada diatas kebenaran.

 

(Shahih Muslim 3005-73)

 

================================================================

Peristiwa Ashhabul Ukhdud adalah sebuah tragedi berdarah, pembantaian yang dilakukan oleh seorang raja kejam kepada jiwa-jiwa kaum muslimin, ini merupakan kebiadaban dan tindakan tak berpreikemanusiaan; namun akidah tetaplah harus dipertahankan, karena dengannyalah kebahagiaan yang abadi akan diperoleh. Allah mengisahkan kejadian tragis ini dalam Alquran dengan firman-Nya:

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Buruju: 4-7)

Para ahlul ilmi sedikit berselisih dalam menafsirkan siapakah Ashhabul Ukhdud. Sebagian di antara mereka (ahlul ilmi) mengatakan bahwa mereka (Ashhabul Ukhdud) adalah suatu kaum yang termasuk orang-orang ahli kitab dari sisa-sisa orang Majusi.

Ibnu Abbas dalam suatu riwayat mengatakan: “Mereka adalah sekelompok manusia dari bani Isra’il. Mereka menggali parit yang luas di suatu tempat kemudian menyalakan api, orang-orang berdiri dihadapkan kepada parit, baik laki-laki maupun wanita, kemudian mereka dilemparkan ke dalamnya. Mereka menganggap bahwa dia adalah Daniel dan para sahabatnya.”

Dan dalam riwayat: “Hal itu adalah sebuah lubang parit di negeri Najran, di mana mereka menyiksa manusia di dalamnya.”

Sedangkan dalam riwayat Adl-Dlohak, beliau mengatakan: “Para ahli tafsir menyangka bahhwa Ashhabul Ukhdud adalah orang-orang dari bani Israil, di mana mereka meringkus manusia baik laki-laki maupun wanita, lalu dibuatkanlah parit dan dinyalakan api dalam parit tersebut, lalu dihadapkanlah seluruh kaum mu’minin ke arah parit tersebut, seraya dikatakan: ‘Kalian (memilih) kufur atau dilemparkan ke dalam api?” (Tafsir Ath-Thabari, 30/162)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 11, 2017 in Islam

 

Tags: , ,

Ahl al-Sunnah wa’l-Jamaa’ah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Ahlussunnah adalah mereka yang faham dan mengamalkan beberapa nash ini :

Allah Azza Wa Jalla berfirman :
”Berpeganglah kamu semua pada tali Allah (Al Qur’an dan Sunnah), dan janganlah kamu berpecah belah” (Al Qur’an. Surat Ali Imron : 103)

“ Hai orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya dan Ulil Amri diantara kamu, Kemudian jika kamu berlainan/berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia kepada Kitabullah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya) jika kalian benar2 beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Al Qur’an. Surat An Nisa’ : 59)

“Katakanlah , “Inilah jalan ku, aku dan orang-orang yang mengikuti ku menyeru (kalian) kepada Allah Ta`ala dengan ilmu yang nyata .Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk oarng-orang yang musyrik” (QS. Yusuf :108)

“Wahai orang2 yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhan (Total), dan jangan kamu ikuti langkah2 syetan, sesungguhnya ia (syetan) adalah musuhmu yang nyata” (QS. Al Baqoroh ayat 208)

Dari Mu’awiah Radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri diantara kami lalu bersabda :“Ketahuilah bahwa umat sebelum kalian dari golongan ahli kitab berpecah-pecah menjadi 72 firqoh/golongan, dan sesungguhnya umatku sampai dengan hari kiamat nanti akan terpecah menjadi 73 firqoh/golongan, dimana dari 73 golongan ini, yang 72 golongan terancam neraka dan hanya satu golongan yang menjadi ahli surga. Ketika para sahabat bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam tentang siapa golongan yang hanya satu itu, Rasulullah menjawab: “Al jama’ah, yang aku dan para sahabatku ada diatasnya/berpijak pada sunnahku”. (SHAHIH, Riwayat Ahmad, Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
”Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu amalan dalam urusan agama yang bukan datang dari kami (Allah dan Rasul-Nya), maka tertolaklah amalnya itu”. (SHAHIH, riwayat Muslim Juz 5,133)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Amma ba’du! Maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan sejelek-jelek urusan adalah yang baru / yang diada-adakan (Muhdast) dan setiap yang muhdast adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (SHAHIH, riwayat Muslim Juz 3, 11, riwayat Ahmad Juz 3, 310, riwayat Ibnu Majah no 45)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya Syetan telah berputus asa untuk disembah dinegri kalian, tetapi ia senang ditaati menyangkut hal selain itu diantara amal perbuatan yang kalian anggap sepele, maka berhati-hatilah. Sesungguhnya aku telah meninggalkan/mewariskan pada kalian apa2 yang jika kalian berpegang teguh padanya, maka kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu kitab Allah dan Sunnah NabiNya” (HASAN, riwayat Bukhari, Muslim, Al Hakim, Adz zahabi, Albani)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dgn tangannya, kemudian bersabda,
“Inilah jalan Allah yg lurus”, lalu beliau membuat garis2 di kanan dan kirinya kmudian bersabda,”Inilah jalan2 yg sesat, tak satupun jalan2 itu kecuali didalamnya terdapat syaitan yg menyeru kepadanya”.[SHAHIH. HR. Ahmad 1/435, ad Darimi 1/72, al Hakim 2/261, al Lalika’i 1/90. Dishahihkan al Albani dlm Dzilalul Jannah].

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, patuh dan taat walaupun dipimpin budak Habasyi, karena siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah pada Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang baru (yang diada-adakan) kepada hal-hal yang baru itu adalah kebid’ahan dan setiap kebid’ahan adalah kesesatan”. [SHAHIH. HR.Abu Dawud (4608), At-Tirmidziy (2676) dan Ibnu Majah (44,43),Al-Hakim (1/97)]

“Aku tinggalkan kalian di atas (jalan) yang putih, malamnya bagaikan siangnya, tidak ada seorang pun sepeninggalku yang berpaling darinya melainkan ia (akan) binasa….”[SHAHIH. HR Ibnu Majah (1/16 no. 43) dan lain-lain, dari hadits Al-Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu. Ini lafazh dalam Sunan Ibnu Majah. Lihat juga As-Silsilah Ash-Shahihah (2/610 no. 937)]

 
Leave a comment

Posted by on December 11, 2017 in Islam

 

Tags:

Adipati Karnna Wresa

Karakter Adipati Karnna cukup bagus untuk di contoh

Wayang Indonesia

Karna adalah salah satu tokoh penting dalam Mahabharata. Ia adalah putra tertua Kunti, sehingga merupakan saudara seibu Pandava dan merupakan yang tertua dari keenam saudara tersebut. Walaupun Duryodhana menunjuknya sebagai raja Anga, perannya dalam kisah Mahabharata jauh melebihi peran seorang raja. Karna bertarung di pihak Kaurava dalam perang di Kurukshetra.

View original post 2,714 more words

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2014 in Legend and Myth, Story

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

1 ONS bukan 100 Gram – Pendidikan yang Menjadi Boomerang

Pemerintah memang seharusnya merevisi semua bahan pembelajaran agar generasi kita tidak salah kaprah. Apalagi kalau kita lihat buku-buku sekolah sekarang ini banyak yang asal cetak tanpa di edit terlebih dahulu..sangat menyedihkan nasib bangsa ini…
mau dibawa kemanaaaa…..

 
Leave a comment

Posted by on September 28, 2013 in Education

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

The Art Of Writing & Speaking The English

The Art Of Writing & Speaking The English

by Sherwin Cody

  1. LETTERS AND SOUNDS {VOWELS CONSONANTS EXERCISES THE DICTIONARY}
  2. WORD-BUILDING {PREFIXES}
  3. WORD-BUILDING–Rules and Applications {EXCEPTIONS}
  4. PRONUNCIATION

THE METHOD OF THE MASTERS

  1. DICTION.
  2. FIGURES OF SPEECH.
  3. STYLE.
  4. HUMOR
  5. RIDICULE.
  6. THE RHETORICAL, IMPASSIONED AND LOFTY STYLES
  7. RESERVE
  8. CRITICISM
  9. THE STYLE OF FICTION: NARRATIVE, DESCRIPTION, AND DIALOGUE
  10. THE EPIGRAMMATIC STYLE
  11. THE POWER OF SIMPLICITY
  12. HARMONY OF STYLE
  13. IMAGINATION AND REALITY.— THE AUDIENCE.
  14. THE USE OF MODELS IN WRITING FICTION

For Learning to Write and Speak Masterly English.

The first textbook on rhetoric which still remains to us was written by Aristotle. He defines rhetoric as the art
of writing effectively, viewing it primarily as the art of persuasion in public speaking, but making it include
all the devices for convincing or moving the mind of the hearer or reader.

Aristotle’s treatise is profound and scholarly, and every textbook of rhetoric since written is little more than a
restatement of some part of his comprehensive work. It is a scientific analysis of the subject, prepared for
critics and men of a highly cultured and investigating turn of mind, and was not originally intended to instruct
ordinary persons in the management of words and sentences for practical purposes.

While no one doubts that an ordinary command of words may be learned, there is an almost universal
impression in the public mind, and has been even from the time of Aristotle himself, that writing well or ill is
almost purely a matter of talent, genius, or, let us say, instinct. It has been truly observed that the formal study
of rhetoric never has made a single successful writer, and a great many writers have succeeded preëminently
without ever having opened a rhetorical textbook. It has not been difficult, therefore, to come to the
conclusion that writing well or ill comes by nature alone, and that all we can do is to pray for luck,–or, at the
most, to practise incessantly.

Let us attack our problem from a common-sense point of view. How have greater writers learned to write?
How do plumbers learn plumbing?

The process by which plumbers learn is simple. They watch the master-plumber, and then try to do likewise,
and they keep at this for two or three years. At the end they are themselves master-plumbers, or at least
masters of plumbing.

The method by which great writers, especially great writers who didn’t start with a peculiar genius, have
learned to write is much the same. Take Stevenson, for instance: he says he “played the sedulous ape.” He
studied the masterpieces of literature, and tried to imitate them. He kept at this for several years. At the end
he was a master himself. We have reason to believe that the same was true of Thackeray, of Dumas, of
Cooper, of Balzac, of Lowell. All these men owe their skill very largely to practice in imitation of other great
writers, and often of writers not as great as they themselves. Moreover, no one will accuse any of these
writers of not being original in the highest degree. To imitate a dozen or fifty great writers never makes
imitators; the imitator, so-called, is the person who imitates one. To imitate even two destroys all the bad
effects of imitation.

A Practical Method.

Aristotle’s method, though perfect in theory, has failed in practice. Franklin’s method is too elementary and
undeveloped to be of general use. Taking Aristotle’s method (represented by our standard textbooks on
rhetoric) as our guide, let us develop Franklin’s method into a system as varied and complete as Aristotle’s.
We shall then have a method at the same time practical and scholarly.

We have studied the art of writing words correctly (spelling) and writing sentences correctly (grammar).*
Now we wish to learn to write sentences, paragraphs, and entire compositions effectively.

First, we must form the habit of observing the meanings and values of words, the structure of sentences, of
paragraphs, and of entire compositions as we read standard literature–just as we have been trying to form
the habit of observing the spelling of words, and the logical relationships of words in sentences. In order that
we may know what to look for in our observation we must analyse a little,but we will not imagine that we
shall learn to do a thing by endless talk about doing it.

Second, we will practise in the imitation of selections from master writers, in every case fixing our attention
on the rhetorical element each particular writer best illustrates. This imitation will be continued until we have
mastered the subject toward which we are especially directing our attention, and all the subjects which go to the making of an accomplished writer.

Third, we will finally make independent compositions for ourselves with a view to studying and expressing the
stock of ideas which we have to express. This will involve a study of the people on whom we wish to impress
our ideas, and require that we constantly test the results of our work to see what the actual effect on the mind
of our audience is.
Let us now begin our work.

I hope the summary from the book  “The Art Of Writing & Speaking The English by Sherwin Cody” is useful for anyone who need it.

“The art of writing is the art of discovering what you believe.”

Gustave Flaubert

 
1 Comment

Posted by on April 15, 2013 in Education, Language

 

Tags: , , , , , , ,

Do’a Mohon Ditunjukkan yang Haqq (Benar)


Bismillah

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Ya Allah Tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan berikan kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kami yang batil itu batil dan berikan kami kekuatan  untuk menjauhinya, dengan Rahmatmu juga ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

zuhud

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2013 in Islam

 

Tags: , , ,

Kembali Ke Allah

Kehancuran dalam pencarian makna yang hakiki..

Hancurkan semua kesombongan dan kebodohan untuk menyerahkan dirimua seutuhnya kepada Allah.

Bersihkan jiwamu dari penyakit hati.

Basuh Wajahmu dan tubuhmu dengan dengan wudhu yang sempurna.

Kembalikan cahayamu dengan sholat khusyu dan sadaqah.

Hakiki kembali ke fitrah, karena Allah menyaksikan di atas Arasy.

Dzikir tidak hanya dengan lidah, tapi juga dengan seluruh jiwa dan raga.

Jangan menjadi seperti mutiara yang berada di dalam mulut babi.

Huwa Allah…..

Ihdinas-siratal-mustaqim..اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ.

Manusia membutuhkan bimbingan, tidak hanya memiliki pengetahuan tentang teori dan praktek ajaran yang diyakininya, tetapi juga untuk melihat kebenaran yang luar biasa yang membuka cakrawala spiritual yang baru

Kembali ke Allah

 

 
Leave a comment

Posted by on March 6, 2013 in Islam

 

Tags: , , , , , ,