RSS

Ashhabul Ukhdud

11 Dec

Kisah Seorang Anak Raja dengan Penyihir dan Rahib

 

حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْبٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

 

كَانَ مَلِكٌ فِيْمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ وَكَانَ لَهُ سَاحِرٌ فَلَمَّا كَبِرَ قَالَ لِلْمَلِكِ إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ فَابْعَثْ إِلَيَّ غُلاَمًا أُعَلِّمْهُ السِّحْرَ فَبَعَثَ إِلَيْهِ غُلاَمًا يُعَلِّمُهُ فَكَانَ فِي طَرِيْقِهِ إِذَا سَلَكَ رَاهِبٌ فَقَعَدَ إِلَيْهِ وَسَمِعَ كَلاَمَهُ فَأَعْجَبَهُ فَكَانَ إِذَا أَتَى السَّاحِرَ مَرَّ بِالرَّاهِبِ وَقَعَدَ إِلَيْهِ فَإِذَا أَتَى السَّاحِرَ ضَرَبَهُ فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى الرَّاهِبِ فَقَالَ إِذَا خَشِيْتَ السَّاحِرَ فَقُلْ حَبَسَنِي أَهْلِي وَإِذَا خَشِيْتَ أَهْلَكَ فَقُلْ حَبَسَنِي السَّاحِرُ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ أَتَى عَلَى دَابَّةٍ عَظِيْمَةٍ قَدْ حَبَسَتِ النَّاسَ فَقَالَ الْيَوْمَ أَعْلَمُ آلسَّاحِرُ أَفْضَلُ أَمْ اَلرَّاهِبُ أَفْضَلُ فَأَخَذَ حَجَرًا فَقَالَ اَللّهُمَّ إِنْ كَانَ أَمْرُ الرَّاهِبِ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ أَمْرِ السَّاحِرِ فَاقْتُلْ هَذِهِ الدَّابَّةَ حَتَّى يَمْضِيَ النَّاسُ فَرَمَاهَا فَقَتَلَهَا وَمَضَى النَّاسُ فَأَتَى الرَّاهِبَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ لَهُ الرَّاهِبُ أَيْ بُنَيَّ أَنْتَ الْيَوْمَ أَفْضَلُ مِنِّي قَدْ بَلَغَ مِنْ أَمْرِكَ مَا أَرَى وَإِنَّكَ سَتُبْتَلَى فَإِنْ اُبْتُلِيْتَ فَلاَ تَدُلَّ عَلَيَّ وَكَانَ الْغُلاَمُ يُبْرِئُ اْلأَكْمَهَ وَاْلأَبْرَصَ وَيُدَاوِي النَّاسَ مِنْ سَائِرِ اْلأَدْوَاءِ فَسَمِعَ جَلِيْسٌ لِلْمَلِكِ كَانَ قَدْ عَمِيَ فَأَتَاهُ بِهَدَايَا كَثِيْرَةٍ فَقَالَ مَا هَاهُنَا لَكَ أَجْمَعُ إِنْ أَنْتَ شَفَيْتَنِي فَقَالَ إِنِّي لاَ أَشْفِي أَحَدًا إِنَّمَا يَشْفِي اللهُ فَإِنْ أَنْتَ آمَنْتَ بِاللهِ دَعَوْتُ اللهَ فَشَفَاكَ فَآمَنَ بِاللهِ فَشَفَاهُ اللهُ فَأَتَى الْمَلِكَ فَجَلَسَ إِلَيْهِ كَمَا كَانَ يَجْلِسُ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَنْ رَدَّ عَلَيْكَ بَصَرَكَ قَالَ رَبِّي قَالَ وَلَكَ رَبٌّ غَيْرِي قَالَ رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ فَأَخَذَهُ فَلَمْ يَزَلْ يُعَذِّبُهُ حَتَّى دَلَّ عَلَى الْغُلاَمِ فَجِيءَ بِالْغُلاَمِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ أَيْ بُنَيَّ قَدْ بَلَغَ مِنْ سِحْرِكَ مَا تُبْرِئُ اْلأَكْمَهَ وَاْلأَبْرَصَ وَتَفْعَلُ وَتَفْعَلُ فَقَالَ إِنِّي لاَ أَشْفِي أَحَدًا إِنَّمَا يَشْفِي اللهُ فَأَخَذَهُ فَلَمْ يَزَلْ يُعَذِّبُهُ حَتَّى دَلَّ عَلَى الرَّاهِبِ فَجِيءَ بِالرَّاهِبِ فَقِيْلَ لَهُ اِرْجِعْ عَنْ دِيْنِكَ فَأَبَى فَدَعَا بِالْمِئْشَارِ فَوَضَعَ الْمِئْشَارَ فِي مَفْرِقِ رَأْسِهِ فَشَقَّهُ حَتَّى وَقَعَ شِقَّاهُ ثُمَّ جِيءَ بِجَلِيْسِ الْمَلِكِ فَقِيْلَ لَهُ اِرْجِعْ عَنْ دِيْنِكَ فَأَبَى فَوَضَعَ الْمِئْشَارَ فِي مَفْرِقِ رَأْسِهِ فَشَقَّهُ بِهِ حَتَّى وَقَعَ شِقَّاهُ ثُمَّ جِيءَ بِالْغُلاَمِ فَقِيْلَ لَهُ اِرْجِعْ عَنْ دِيْنِكَ فَأَبَى فَدَفَعَهُ إِلَى نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ اِذْهَبُوْا بِهِ إِلَى جَبَلِ كَذَا وَكَذَا فَاصْعَدُوْا بِهِ الْجَبَلَ فَإِذَا بَلَغْتُمْ ذُرْوَتَهُ فَإِنْ رَجَعَ عَنْ دِيْنِهِ وَإِلاَّ فَاطْرَحُوْهُ فَذَهَبُوْا بِهِ فَصَعِدُوْا بِهِ الْجَبَلَ فَقَالَ اَللّهُمَّ اكْفِنِيْهِمْ بِمَا شِئْتَ فَرَجَفَ بِهِمُ الْجَبَلُ فَسَقَطُوْا وَجَاءَ يَمْشِي إِلَى الْمَلِكِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَا فَعَلَ أَصْحَابُكَ قَالَ كَفَانِيْهِمُ اللهُ فَدَفَعَهُ إِلَى نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ اذْهَبُوْا بِهِ فَاحْمِلُوْهُ فِي قُرْقُوْرٍ فَتَوَسَّطُوْا بِهِ الْبَحْرَ فَإِنْ رَجَعَ عَنْ دِيْنِهِ وَإِلاَّ فَاقْذِفُوْهُ فَذَهَبُوْا بِهِ فَقَالَ اَللّهُمَّ اكْفِنِيْهِمْ بِمَا شِئْتَ فَانْكَفَأَتْ بِهِمُ السَّفِيْنَةُ فَغَرِقُوْا وَجَاءَ يَمْشِي إِلَى الْمَلِكِ فَقَالَ لَهُ الْمَلِكُ مَا فَعَلَ أَصْحَابُكَ قَالَ كَفَانِيْهِمُ اللهُ فَقَالَ لِلْمَلِكِ إِنَّكَ لَسْتَ بِقَاتِلِي حَتَّى تَفْعَلَ مَا آمُرُكَ بِهِ قَالَ وَمَا هُوَ قَالَ تَجْمَعُ النَّاسَ فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ وَتَصْلُبُنِي عَلَى جِذْعٍ ثُمَّ خُذْ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِي ثُمَّ ضَعِ السَّهْمَ فِي كَبِدِ الْقَوْسِ ثُمَّ قُلْ بِاسْمِ اللهِ رَبِّ الْغُلاَمِ ثُمَّ ارْمِنِي فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ قَتَلْتَنِي فَجَمَعَ النَّاسَ فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ وَصَلَبَهُ عَلَى جِذْعٍ ثُمَّ أَخَذَ سَهْمًا مِنْ كِنَانَتِهِ ثُمَّ وَضَعَ السَّهْمَ فِي كَبْدِ الْقَوْسِ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللهِ رَبِّ الْغُلاَمِ ثُمَّ رَمَاهُ فَوَقَعَ السَّهْمُ فِي صُدْغِهِ فَوَضَعَ يَدَهُ فِي صُدْغِهِ فِي مَوْضِعِ السَّهْمِ فَمَاتَ فَقَالَ النَّاسُ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلاَمِ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلاَمِ آمَنَّا بِرَبِّ الْغُلاَمِ فَأُتِيَ الْمَلِكُ فَقِيْلَ لَهُ أَرَأَيْتَ مَا كُنْتَ تَحْذَرُ قَدْ وَاللهِ نَزَلَ بِكَ حَذَرُكَ قَدْ آمَنَ النَّاسُ فَأَمَرَ بِاْلأُخْدُوْدِ فِي أَفْوَاهِ السِّكَكِ فَخُدَّتْ وَأَضْرَمَ النِّيْرَانَ وَقَالَ مَنْ لَمْ يَرْجِعْ عَنْ دِيْنِهِ فَأَحْمُوْهُ فِيْهَا أَوْ قِيْلَ لَهُ اقْتَحِمْ فَفَعَلُوْا حَتَّى جَاءَتِ امْرَأَةٌ وَمَعَهَا صَبِيٌّ لَهَا فَتَقَاعَسَتْ أَنْ تَقَعَ فِيْهَا فَقَالَ لَهَا الْغُلاَمُ يَا أُمَّهْ اِصْبِرِي فَإِنَّكِ عَلَى الْحَقِّ

 

73 – (3005)

 

Telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Shuhaib bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

 

Dahulu sebelum kalian ada, Ada seorang raja, ia memiliki tukang sihir. Saat tukang sihir sudah tua, ia berkata kepada rajanya: Aku sudah tua, kirimkanlah seorang pemuda kepadaku untuk aku ajari sihir. Lalu ia mengirim seorang pemuda untuk belajar sihir. Di jalan diantara tukang sihir dan raja terdapat seorang rahib. Si pemuda itu mendatangi rahib dan mendengar kata-katanya, ia kagum akan kata-kata si rahib itu sehingga apabila dia mendatangi tukang sihir dia (menyempatkan diri) bertemu dengan si Rahib dan duduk (mendengarkannya) Maka ketika datang (sampai) ke si penyihir, ia pasti dipukul oleh penyihir (karena terlambat). Pemuda itu mengeluhkan hal itu kepada si rahib, ia menjawab: Bila tukang sihir hendak memukulmu, katakan: Keluargaku menahanku (sehingga terlambat),  dan bila kau takut pada keluargamu, katakan: Si tukang sihir menahanku. Demikianlah waktu terus berjalan. Sampai pada suatu hari ia mendekati seekor hewan yang besar yang menghalangi jalanan orang, ia berkata: Pada hari ini aku akan tahu, apakah tukang sihir yang lebih baik ataukah pendeta yang lebih baik. Ia mengambil batu lalu berkata: Ya Allah, bila urusan si rahib lebih Engkau sukai dari pada tukang sihir itu maka bunuhlah binatang ini hingga orang bisa lewat. Kemudian ia melempar binatang itu dengan batu itu dan matilah binatang itu, orang-orang pun bisa lewat. Ia memberitahukan hal itu kepada si rahib. Si rahib berkata: Hai Anakku, saat ini engkau lebih baik (utama) dari pada aku dan urusanmu telah sampai seperti yang aku lihat, Nanti engkau akan mendapat ujian, maka bila engkau mendapat ujian janganlah engkau menunjukkan padaku. Sekarang si pemuda bisa menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta dan bisa mengobati orang-orang dari berbagai macam penyakit. Ada sorang teman raja yang buta mendengarnya, lalu ia mendatangi pemuda itu dengan membawa hadiah yang banyak, ia berkata: Sembuhkan aku dan kau akan mendapatkan yang aku kumpulkan disini. Pemuda itu berkata: Aku tidak menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah, bila kau beriman padaNya, aku akan berdoa kepadaNya agar menyembuhkanmu. Teman si raja itu pun beriman lalu si pemuda itu berdoa kepada Allah lalu ia pun sembuh. Kemudian ia mendatangi raja lalu duduk didekatnya seperti biasanya. Kemudian Si raja bertanya: Siapa yang menyembuhkan matamu?  Ia menjawab: Rabbku (Tuhanku).  Si raja berkata: Kau punya Rabb selainku? Orang itu berkata: Rabbku dan Rabbmu adalah Allah. Si raja menangkapnya lalu menyiksanya tiada henti hingga ia menunjukkannya pada si pemuda lalu pemuda itu didatangkan, Raja berkata: Hai anakku, Ilmu sihirmu (telah sedemikian tinggi) sehingga samapai bisa menyembuhkan orang buta, kusta dan kau melakukan ini dan itu.Pemuda itu berkata: Bukan aku yang menyembuhkan, yang menyembuhkan hanya Allah. Si raja lalu menangkapnya dan terus menerus menyiksanya sehinggga ia menunjukkan kepada si rahib. Kemudian didatangkanlah si rahib. Lalu dikatakan padanya: Tinggalkan agamamu!. Si rahib menolaknya (tidak mau) lalu si raja memerintahkan untuk mengambil gergaji kemudian diletakkan tepat ditengah kepalanya kemudian dibelahlah kepalanya sehingga belahannnya jatuh di tanah. Setelah itu teman si raja didatangkan dan dikatakan padanya: Tinggalkan agamamu. Sahabat raja menolaknya lalu si raja meminta gergaji kemudian diletakkan tepat ditengah kepalanya hingga sebelahnya terkapar di tanah. Setelah itu pemuda didatangkan lalu dikatakan padanya: Tinggalkan agamamu. Pemuda itu tidak mau. Lalu si raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya, raja berkata: Bawalah dia ke gunung ini dan ini, bawalah ia naik, bila ia mau meninggalkan agamanya (biarkanlah dia) dan bila tidak mau, lemparkan dari atas gunung. Mereka membawanya ke puncak gunung lalu pemuda itu berdoa: Ya Allah, cukupilah aku dari mereka sekehendakMu. Ternyata gunung mengguncang mereka dan mereka semua jatuh. Pemuda itu kembali pulang hingga tiba dihadapan raja. Raja bertanya: Bagaimana keadaan kawan-kawanmu?  Pemuda itu menjawab: Allah mencukupiku dari mereka. Lalu si raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya, raja berkata: Bawalah dia ke sebuah perahu lalu kirim ke tengah laut, bila ia mau meninggalkan agamanya (bawalah dia pulang) dan bila ia tidak mau meninggalkannya, lemparkan dia. Mereka membawanya ke tengah laut lalu pemuda itu berdoa: Ya Allah, cukupilah aku dari mereka sekehendakMu. Ternyata perahunya terbalik dan mereka semua tenggelam. Pemuda itu pulang hingga tiba dihadapan raja, raja bertanya: Bagaimana keadaan teman-temanmu? Pemuda itu menjawab: Allah mencukupiku dari mereka. Setelah itu ia berkata kepada raja: Engkau tidak akan bisa membunuhku hingga kau mau melakukan apa yang aku perintahkan, Raja bertanya: Apa yang kau perintahkan?  Pemuda itu berkata: Kumpulkan semua orang ditanah lapang yang luas lalu saliblah aku diatas pelepah, ambillah anak panah dari sarung panahku lalu ucapkan: Dengan nama Allah, Rabb (Tuhan) pemuda ini. Bila engkau melakukannya engkau akan bisa membunuhku. Akhirnya raja itu melakukannya. Ia meletakkan anak panah ditengah-tengah panah lalu melesakkannya seraya berkata: Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini. Anak panah di lesakkan ke pelipis pemuda itu lalu pemuda meletakkan tangannya ditempat panah menancap kemudian mati. Orang-orang berkata: Kami beriman dengan Rabb pemuda itu. Kami beriman dengan Rabb pemuda itu. Kami beriman dengan Rabb pemuda itu. Kemudian didatangkan kepada raja dan dikatakan padanya: Tahukah kamu , sesuatu yang engkau khawatirkan, demi Allah kini telah menimpamu (terjadi). Orang-orang telah beriman seluruhnya. Si raja kemudian memerintahkan membuat parit di jalanan kemudian dinyalakan api. Raja berkata: Siapa pun yang tidak meninggalkan agamanya, pangganglah didalamnya. Mereka melakukannya sehingga datanglah seorang wanita bersama anaknya, sepertinya ia hendak mundur agar tidak terjatuh dalam kubangan api lalu si bayi itu berkata: Hai Ibuku, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada diatas kebenaran.

 

(Shahih Muslim 3005-73)

 

================================================================

Peristiwa Ashhabul Ukhdud adalah sebuah tragedi berdarah, pembantaian yang dilakukan oleh seorang raja kejam kepada jiwa-jiwa kaum muslimin, ini merupakan kebiadaban dan tindakan tak berpreikemanusiaan; namun akidah tetaplah harus dipertahankan, karena dengannyalah kebahagiaan yang abadi akan diperoleh. Allah mengisahkan kejadian tragis ini dalam Alquran dengan firman-Nya:

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Buruju: 4-7)

Para ahlul ilmi sedikit berselisih dalam menafsirkan siapakah Ashhabul Ukhdud. Sebagian di antara mereka (ahlul ilmi) mengatakan bahwa mereka (Ashhabul Ukhdud) adalah suatu kaum yang termasuk orang-orang ahli kitab dari sisa-sisa orang Majusi.

Ibnu Abbas dalam suatu riwayat mengatakan: “Mereka adalah sekelompok manusia dari bani Isra’il. Mereka menggali parit yang luas di suatu tempat kemudian menyalakan api, orang-orang berdiri dihadapkan kepada parit, baik laki-laki maupun wanita, kemudian mereka dilemparkan ke dalamnya. Mereka menganggap bahwa dia adalah Daniel dan para sahabatnya.”

Dan dalam riwayat: “Hal itu adalah sebuah lubang parit di negeri Najran, di mana mereka menyiksa manusia di dalamnya.”

Sedangkan dalam riwayat Adl-Dlohak, beliau mengatakan: “Para ahli tafsir menyangka bahhwa Ashhabul Ukhdud adalah orang-orang dari bani Israil, di mana mereka meringkus manusia baik laki-laki maupun wanita, lalu dibuatkanlah parit dan dinyalakan api dalam parit tersebut, lalu dihadapkanlah seluruh kaum mu’minin ke arah parit tersebut, seraya dikatakan: ‘Kalian (memilih) kufur atau dilemparkan ke dalam api?” (Tafsir Ath-Thabari, 30/162)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 11, 2017 in Islam

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: